SUNAT DI DALAM SURAT ROMA DAN GALATIA





SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SATYABHAKTI







PERBEDAAN DAN PERSAMAAN SUNAT
DI DALAM SURAT ROMA DAN GALATIA






MAKALAH INI DISERAHKAN KEPADA
AMELIA KIMBERLY ANN RUMBIAK, M.A., M.Th.
UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN DALAM MATA KULIAH
SURAT ROMA DAN GALATIA






OLEH
ANDI TRIYONO




 

MALANG, INDONESIA
10 OKTOBER 2016


Pendahuluan
            Berbicara mengenai sunat, berarti berbicara mengenai tujuan dari sunat.  Yaitu mengapa sunat dilakukan oleh bangsa-bangsa tertentu.  Selain itu juga berbicara mengenai sunat, tidak bisa lepas dari bangsa Yahudi.  Bagi orang Yahudi sunat adalah tanda yang mencirikan kebangsaan mereka.  Dengan demikian sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan bangsa Israel dan hal ini tidak dapat disangkal.[1]
            Berkaitan mengenai Sunat ini, rasul Paulus juga membahas mengenai sunat di dalam surat Roma dan Galatia.  Walaupun Paulus mengacu pada pokok yang sama yaitu sunat, tetapi di dalam dua surat ini memiliki masalah yang berbeda.  Permasalahan yang sedang dialami oleh jemaat di Roma adalah mengenai pengajaran Rasul Paulus. Dimana mereka meragukan apa yang Paulus ajarkan dan beritakan.[2]  Di jemaat Roma juga, ada beberapa orang Yahudi yang bersikap salah kepada orang non-Yahudi.[3]  Sedangkan permasalahan yang ada di Galatia menyangkut sunat dan Taurat.  Dimana ada guru Yahudi yang memaksa mereka yang baru dimenangkan oleh Paulus dengan paksaan bahwa mereka harus disunat dan menerima Taurat Musa.[4]  Hal tersebut adalah syarat-syarat yang diberikan supaya diselamatkan dan diterima digereja.[5]  Untuk itu, di dalam pembahasan mengenai sunat yang ditulis ini.  Akan mencoba untuk mencari tahu, apakah sunat yang dimaksud tujuannya sama? Dan apa kesamaannya.  Jika berbeda, apakah perbedaannya?
Sunat dalam surat Roma
            Di dalam surat Roma, Paulus menjelaskan mengenai sunat dengan tujuan untuk meluruskan sikap orang Yahudi terhadap non-Yahudi.  Di dalam penjelasannya tersebut rasul Paulus memakai sunat, salah satunya dipakai di dalam pembahasannya yang berkaitan dengan hukum Taurat (Roma 2:25-29).  Dimana hukum Taurat dan sunat tidak ada gunanya dan tidak menyelamatkan.  Karena jika hukum Taurat tidak dijalankan salah satu, maka semua akan sia-sia. 
Demikian juga dengan sunat, jika ada orang yang melakukan sunat dan melanggar hukum Taurat maka tidak ada gunanya disunat (Roma 2:25).  Artinya pengakuan imanmu tidak akan berguna bagimu.[6]  Oleh sebab itu, sekalipun orang itu bersunat, sebenarnya orang itu sama dengan orang yang tidak bersunat.[7]  Sehingga seperti pembahasan Paulus sebelumnya Roma 2:1-16 dimana hukuman Allah bagi semua orang.  Sehingga orang yang bersunatpun akan mendapat hukuman Allah, karena sunat tidak dapat menyelamatkan mereka yang bersunat yang tidak sesuai dengan sifat yang selayaknya dilakukan bagi orang bersunat.  Sunat memang kewajiban yang diperintahkan kepada orang Yahudi, tetapi hal itu bukanlah syarat bagi seluruh dunia untuk memperoleh pembenaran dan keselamatan.[8]  Sehingga Paulus memberikan suatu pendapat bahwa tanda sunat itu tidak ada gunanya jika tidak ada perbuatan yang nyata.[9]  Perbuatan yang nyata ini tidak dapat diperoleh hanya dengan melakukan sunat secara lahiriah.  Rasul Paulus mengatakan bahwa sunat yang benar adalah sunat di dalam hati (Roma 2:29).  Sunat di dalam hati adalah sunat yang dilakukan oleh Allah.  Sunat di dalam hati berhubungan langsung di dalam Ulangan 30:6, dimana dikatakan bahwa Allah yang akan menyunat hati.  Sebab Allah melihat hati, tidak seperti manusia yang melihat apa yang kelihatan.  Sunat hati juga dapat dikatakan itu adalah penanggalan tubuh dosa.  Penanggalan akan tubuh yang berdosa, berarti dilakukan secara rohani, dengan roh kita sebagai pelaku, dan dikerjakan oleh Roh Allah sebagai penciptanya.[10]  Jadi sunat di dalam hati adalah sunat yang dilakukan oleh Allah sendiri.  Berarti bahwa sunat di dalam pembahasan Paulus ini, digunakan untuk membandingkan.  Yaitu membandingkan antara sunat lahiriah dan sunat batiniah.    
Selanjutnya Paulus menggunakan kata sunat di dalam pemabahasan mengenai kelebihan orang Yahudi dan kesetiaan Allah (Roma 3).  Di dalam mengawali pembahasannya ini, Paulus menggunakan metode diatribe.  Dimana ia mempertanyakan mengenai kelebihan orang Yahudi dan kegunaan sunat.   ….disini rasul Paulus memaparkan tantangan-tantangan yang alami oleh penganut Yudais.[11]  Setelah itu, Paulus memaparkan kelebihan orang Yahudi.  Ketika selesai memaparkan kelebihan orang Yahudi, Paulus melanjutkan pengajarannya dengan pengajaran bahwa manusia dibenarkan karena iman bukan sunat (Roma 3:30).
            Setelah pembahasan Paulus mengenai manusia dibenarkan karena iman bukan sunat.  Rasul Paulus memberikan ilustrasi Abraham (Roma 4:9-12).  Dimana di dalam ayat ini menyatakan bahwa Abraham dibenarkan bukan pada waktu disunat.  Melainkan Abraham dibenarkan sebelum disunat.  Sunat yang dilakukan Abraham adalah sebuah tanda mengenai kebenaran iman yang ia nyatakan kepada Allah.  Peristiwa ini, terdapat di dalam kejadian 15:6.  Dimana Abraham dijanjikan oleh Allah mengenai keturunan yang akan diperolehnya.  Pada waktu perjanjian itu dikatakan, Abraham belum disunat.  Tetapi setelah Abraham dibenarkan karena percayanya, Allah meminta Abraham disunat sebagai tanda perjanjian dengan-Nya.  Kebenaran itu menyatakan sekali lagi bahwa kebenaran dan keselamatan Abraham sekali-kali bukan berdasarkan sunat atau tidak, melainkan semata-mata demi imannya yang teguh akan perjanjian Allah.[12]  Sehingga di dalam pembahasannya ini rasul Paulus menggunakan sunat sebagai tanda, segel yang memeteraikan kebenaran karena iman (Roma 4:11).
Sunat dalam surat Galatia
            Sedangkan di dalam surat Galatia, dimana para guru Yahudi memaksa orang yang tidak bersunat harus disunat.  Karena perkara yang demikian, rasul Paulus memberikan sebuah pandangan (Galatia 2:3).  Dimana Paulus mengatakan bahwa Titus orang Yunani, tidak dipaksa untuk disunat.  Titus agaknya dibawa sebagai contoh orang-orang bukan Yahudi yang masuk Kristen tetapi tidak bersunat.[13] Di dalam pembahasannya ini, sunat tidak membatasi orang-orang yang bersunat dan yang tidak bersunat untuk menjadi Kristen.  Penerimaan menjadi orang Kristen bukan karena ada sunat.  Sunat hanyalah sebuah tanda yang menandakan mana orang Yahudi dan non-Yahudi (Galatia 2:7-14).  Sehingga Titus digunakan sebagai contoh, bahwa orang non-Yahudi juga dapat masuk gereja.  Sehingga Titus tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya, karena jika demikian dengan sendirinya semua orang percaya bukan Yahudi juga harus disunat.  JIka dia (Titus) keluar dari konferensi tersebut tanpa disunat, maka semua orang percaya bukan Yahudi lainnya yang telah beriman kepada Kristus dapat menikmati pembebasan mereka tanpa ada kekhawatiran akan dipersoalkan.[14]  Tetapi untuk masuk menjadi pengikut Kristus atau menjadi Kristen, sunat bukanlah syarat.  Pada pokoknya, jemaat terbuka bagi siapa saja.[15]
            Selanjutnya Paulus membahas mengenai sunat di dalam surat Galatia setelah membahas menganai hagar dan sara.  Dimana Hagar dan Sara, Rasul Paulus mengatakan bahwa hal itu adalah sebuah kiasan yang benar-benar terjadi (Galatia 4:24-25).   Setelah itu, Paulus menuliskan bahwa kita orang percaya adalah anak-anak perempuan merdeka yaitu Sara bukan anak-anak hamba yaitu keturunan Hagar (Galatia 4:31).  setelah mengatakan demikian Rasul Paulus membahas mengenai kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1-16).  Dimana di dalam pembahasannya itu rasul Paulus menggunakan istilah sunat (Galatia 5:2,3 & 6).    Sunat yang dikaitkan dengan kemerdekaan Kristen.  Di dalam Galatia 5:1, Paulus mengatakan bahwa Kristus telah memerdekakan orang percaya dan janganlah orang percaya mau dikenakan kuk perhambaan.  Hal ini dikatannya bukan kepada orang-orang Yahudi, melainkan orang-orang non-Yahudi yang tidak memiliki latar belakang upacara penyunatan.[16]  Sehingga di dalam Galatia 5:2, 3 yang berbicara mengenai sunat dikatakan bahwa siapa yang menyunatkan dirinya Kristus tidak berguna baginya karena ia harus melakukan seluruh hukum Taurat.  Disini rasul Paulus ingin menngatakan bahwa sunat itu adalah suatu kuk yang memperhamba seseorang dibawah hukum taurat.  Karena menerima sunat berarti meninggalkan prinsip kasih karunia di dalam Kristus (hidup diluar kasih karunia) demi prinsip yang lebih rendah dan mustahil untuk membenarkan diri.[17]  Ditegaskan kembali oleh rasul Paulus bahwa orang yang merdeka tidak perlu untuk disunat yang tidak memiliki arti, dan hanya iman yang bekerja melalui kasih (Galatia 5:6).  Sunat hanya melahirkan anak-anak hamba, ditekankan oleh Paulus saat mengatakan agar mereka mengebirikan diri sendiri.  Paulus mengharapkan agar guru-guru palsu itu mengebirikan diri supaya mereka tidak lagi melahirkan anak-anak perhambaan.[18]
            Setelah itu Paulus membahas mengenai sunat, di dalam menutup surat Galatia.  Setelah ia menyaranakan agar orang-orang percaya saling membantu, dan saling membangun.  Paulus memperingatkan mereka mengenai sunat (Galatia 6:11-18).  Dengan jelas Paulus mengatakan bahwa mereka yang mewajibkan sunat, sering menonjolkan diri karena hal sunat tersebut (Galatia 6:13).  Dengan demikian mereka melakukan hal yang demikian bukan demi kebaikan jemaat atau bagi kemuliaan Allah, melainkan bagi kemegahan diri sendiri.[19]  Di dalam pembahasan ini, bahwa sunat adalah lambang bermegah mereka.  Namun tidak ada artinya karena yang terpenting bukan sunat atau tidak bersunat melainkan menjadi ciptaan baru (Galatia 6:15).
Persamaan dan perbedaan
Dengan demikian baik surat Roma maupun Galatia memiliki persamaan dan perbedaan.  Persamaan di dalam penggunaan sunat baik Roma dan Galatia, yaitu:
1.      Surat Roma dan Galatia, sunat digunakan sebagai sebuah tanda.
2.      Baik Roma dan Galatia, sunat tidak menyelamatkan.
3.      Sunat di dalam Roma dan Galatia adalah sesuatu yang tidak ada artinya, yang ada artinya adalah hidup baru atau sunat hati.
Sedangkan perbedaan sunat di dalam surat Roma dan Galatia adalah:
1.      Di dalam surat Roma sunat digunakan untuk mengatakan kepada orang Yahudi bahwa, orang Yahudi dan non-Yahudi setara.  Karena baik orang Yahudi dan non-Yahudi mereka mendapat hukuman dari Allah yang sama dan mereka diselamatkan karena iman.
2.      Sedangkan di dalam surat Galatia, sunat bukanlah syarat untuk memperoleh keselamatan.  dan bukan syarat untuk menjadi pengikut Kristus.

Daftar Pustaka
F. Pfeiffer, Charles, dan Everett F. Harisson, Tafsiran Alkitab Wycliffe. Vol 3, Perjanjian Baru. Jawa Timur: Gandum Mas, 2001.
Gunning, J.J.W., Surat Galatia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Henry, Matthew, Tafsiran Matthew Henry: Surat Roma, 1&2 Korintus. Cet 1. Surabaya: Momentum, 2015.
Jaffrray, R.A., Tafsiran Surat Roma. Bandung: Yayasan Kalam Kudus, 2007.
Tafsiran Alkitab Masa Kini, Matius-Wahyu. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992.
W. Wiersbe, Warren, Merdeka di dalam Kristus. Bandung: Kalam Kudus, tt.




[1] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini “Sunat” hal 426.
[2]Alkitab Penuntun hidup berkelimpahan, surat Roma.
[3]Ibid,.
[4]Alkitab Penuntun hidup berkelimpahan, surat Galatia.
[5]Ibid,.
[6] Matthew Henry, (Tafsiran Matthew Henry: Surat Roma, 1&2 Korintus. Cet 1. Surabaya: Momentum, 2015). Hal 59.
[7] R.A. Jaffrray, (Tafsiran Surat Roma. Bandung: Yayasan Kalam Kudus, 2007). Hal 46.
[8] Matthew Henry, Hal 60.
[9] R.A. Jaffray, hal 47.
[10] Matthew Henry, Hal 61.
[11] Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Matius-Wahyu. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992).  hal 420.
[12] Ibid., hal 73.
[13] J.J.W. Gunning, (Surat Galatia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012). Hal 23.
[14] Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harisson, (Tafsiran Alkitab Wycliffe. Vol 3, Perjanjian Baru. Jawa Timur: Gandum Mas, 2001). hal 713.
[15] J.J.W. Gunning, Hal 24.
[16] Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harisson, hal 726.
[17] Ibid.
[18] Warren W. Wiersbe, (Merdeka di dalam Kristus. Bandung: Kalam Kudus, tt). hal 118.
[19] Ibid., hal 148.

Komentar